Andaikan Bulan dan Matahari di Tangan Nabi SAW, Ia Tetap Tak akan Tinggalkan Dakwah

Tawar menawar antar Nabi dan kaum Quraisy  

Suatu ketika Nabi Muhammad SAW pernah ditawari beragam kesenangan duniawi oleh kaum Quraisy, asalkan ia mau meninggalkan dakwah. Menanggapi itu, Nabi SAW membalas dengan perkataan yang menohok. Ini penjelasan lengkapnya

Setiap umat Islam pasti akan diberi ujian dan cobaan oleh Allah SWT selama di dunia. Hal ini semata-mata untuk mengetahui mana yang memang benar beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. 

Hal ini sebagaimana yang tertera dalam firman Allah SWT berikut ini: 

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan untuk mengatakan, ‘kami telah beriman’ tanpa diuji?! Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah benar-benar tahu orang-orang yang tulus dan orang-orang yang dusta“. (QS. Al-Ankabut: 2-3).

Ayat ini dibuktikan dengan kisah-kisah para Rasul yang diceritakan dalam sejarah dan bahkan tertulis jelas di Al Quran. Bahwa setiap utusan Allah SWT pasti diberikan cobaan dan ujian hidup selama di dunia. 

Nabi Yusuf diuji dengan saudara-saudaranya dan Zulaikha; Nabi Ayub diuji dengan kondisi penyakit yang dialaminya bertahun-tahun; Nabi Yunus diuji dengan umatnya yang tak kunjung beriman atas seruannya, dan lainnya. 

Ujian dan cobaan yang datang sejatinya bukan untuk membinasakan kita, melainkan menguatkan kita untuk tetap berada di jalan Allah SWT. Untuk itu, berjuang membela kebenaran harus diikuti dengan keimanan dan ketaqwaan yang kuat. 

Selain itu, kita perlu juga tahan dan kebal terhadap segala rayuan, baik harta, jabatan, atau iming-iming lainnya. 

Tak dipungkiri, risikonya memang berat, mulai dari bisa dijauhi dan bahkan dimusuhi oleh teman, saudara, tetangga, atau siapa pun, mengalami kemiskinan, dan laiannya. 

Nabi Muhammad Tolak Tawaran Duniawi

Sejarawan Islam, Ibnu Ishaq, mengungkapkan suatu hari Utbah bin Rabi'ah, salah seorang pemuka Quraisy, berada di tengah-tengah sekumpulan kaumnya. 

Pada waktu yang sama, Rasulullah SAW sedang duduk di Masjidil Haram sendirian.

Utbah kemudian berkata, "Wahai orang-orang Quraisy, bagaimana jika kuhampiri Muhammad, berembuk dengannya dan kutawarkan satu-dua hal? Siapa tahu dia mau menerima sebagian di antaranya, lalu kita berikan kepadanya yang dia inginkan dan dia tak mengganggu kita lagi?"

"Bagus itu wahai Utbah. Hampirilah dan ajaklah dia berembuk," ujar mereka.

Maka, Utbah pun kemudian menghampiri Rasulullah SAW dan berujar

"Wahai anak saudaraku, engkau termasuk golongan kami. Dari segi keluarga dan keturunan, aku juga tahu kedudukanmu. Engkau telah membawa satu urusan yang besar kepada kaummu, yang dengan urusan itu engkau memecah belah persatuan mereka, memupuskan harapan mereka, mencela sesembahan mereka, dan mengingkari golongan leluhur mereka. Sekarang dengarkanlah, aku akan menawarkan beberapa hal kepadamu dan engkau bisa memeriksanya, siapa tahu engkau mau menerima sebagian di antaranya."

Rasulullah SAW mengatakan, "Katakanlah Utbah, biar kudengarkan."

"Wahai anak saudaraku, jika engkau menginginkan harta kekayaan sebagai pengganti apa yang engkau bawa ini (Islam), maka kami siap menghimpun harta kami untukmu. Jika engkau ingin kedudukan, maka kami akan mengangkatmu sebagai pemimpin kami. Jika engkau ingin kerajaan, maka kami siap mengangkatmu sebagai raja kami."

Tak disangka oleh Utbah, Rasulullah SAW menolak mentah-mentah semua yang ditawarkan Utbah. Meski begitu, kaum Quraisy tak mau cepat berputus-asa. 

Beberapa tawaran lain pun disodorkan kepada Rasulullah, di antaranya kaum kafir Quraisy siap meninggalkan sebagian dari apa yang ada pada diri mereka dan begitu pula Rasulullah SAW.

Di dalam riwayat Ibnu Jarir dan At-Thabrani disebutkan bahwa orang-orang musyrik menawarkan kepada Rasulullah, agar beliau menyembah sesembahan mereka selama satu tahun. 

Dan setelahnya orang-orang musyrik juga akan menyembah Tuhan Nabi Muhammad, Allah SWT. 

Hal ini dijelaskan pula di Al Quran: 

 ''Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).'' (QS Al-Qalam: 9).

Karena kesal dengan beragam tawaran yang diberikan kaum Quraisy tersebut, Rasulullah pun menegaskan kepada Utbah, 

"Wahai pamanku, demi Allah, andaikan mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan agama ini, hingga Allah memenangkannya atau aku ikut binasa karenanya, maka aku tidak akan meninggalkannya."

Masyaallah, sungguh mulia dan lurus Nabi Muhammad SAW. Semoga kisah ini bisa memberikan inspirasi kepada kita agar senantiasa berada di jalan yang lurus. Serta 

Belum ada Komentar untuk " Andaikan Bulan dan Matahari di Tangan Nabi SAW, Ia Tetap Tak akan Tinggalkan Dakwah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel