Moeldoko Tuding RS Cari Duit dari Covid-19, Dokter: Pernyataan yang Berbahaya!

  


Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal (Purn) Moeldoko kembali menuai kontroversi dengan menuding rumah sakit dan tenaga medis sebagai biang kerok lonjakan pasien Covid-19 di Indonesia. 

Moeldoko dengan percaya diri menyebut ada RS di Indonesia yang sengaja mencatat pasien 'positif Covid-19', padahal tidak terinfeksi sama sekali di hadapan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. 

Ucapan Moeldoko dianggap merendahkan dan meremehkan tanggung jawab RS ataupun tenaga medis dalam penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia. 

Mantan Panglima TNI itu juga mengaku mendengar ada orang meninggal karena kecelakaan tetapi malah dinyatakan wafat karena Covid-19. 

Ia kelihatan geram dan meminta tindakan tersebut dihentikan oleh RS yang bersangkutan. 

"Jangan semua kematian definisinya mati karena Covid. Ini perlu diluruskan," tegas Moeldoko sebagaimana dikabarkan Warta Ekonomi dalam artikel sindikasi dari Rakyat Merdeka. 

Kendati diprotes para dokter, pernyataan Moeldoko saat berkunjung ke Semarang, Jawa Tengah itu diamini oleh Ganjar Pranowo. 

Politisi dari PDIP tersebut membenarkan ucapan kepala KSP sempat terjadi di salah satu wilayah yang dipimpinnya. 

"Ini kan kasihan. Ini contoh-contoh agar kita bisa memperbaiki hal ini," tuturnya. 

Kini setiap ada pasien yang meninggal di RS, dokter harus memberikan catatan data kematian. 

Data itu akan diverifikasi sebelum akhirnya ditentukan Covid-19 atau bukan. 

Minusnya, penerapan sistem itu akan menimbulkan keterlambatan data angka kematian. 

"Itu lebih baik daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," tegas Ganjar. 

Namun, kalangan dokter tidak terima dengan tudingan Moeldoko dan Ganjar. Di media sosial, para dokter ramai-ramai menyampaikan protes. 

"Tudingan bahwa RS meng-covid-kan pasien untuk mendapatkan anggaran ini berbahaya, apalagi diucapkan oleh pejabat negara," protes dokter spesialis jantung, dr. Berliana Idris, lewat akun Twitter @berlianidris. 

Padahal, sebelum pernyataan itu keluar saja, sudah banyak tenaga kesehatan (nakes) kena "serangan" masyarakat yang berburuk sangka. Apalagi, setelah adanya pernyataan itu. 

"Saya sendiri pernah diserang secara verbal, dituduh meng-covid-covidkan pasien," ungkapnya. 

Protes juga dilayangkan dokter yang juga akademisi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Tonang Dwi Ardyanto. 

Dia menilai pernyataan Moeldoko-Ganjar membuat runtuhnya kepercayaan masyarakat kepada pelayanan kesehatan. 

Padahal, kepercayaan adalah harga paling mahal bagi seorang dokter. 

"Kerja keras membangun trust, runtuh sekejap. Sadarkah Pak?" cuit @tonangardyanto. 

Dokter Andi Khomeini Takdir melalui akun Twitternya, @dr_koko28 juga menyayangkan omongan Moeldoko tersebut. 

Menurut dia, buat apa RS memvonis corona pasien yang tidak positif. 

"Meng-covid-kan pasien? Apa untungnya? Bagaimana caranya? Ckckck" cuitnya. 

"Sudah enggak becus terus kambing hitamkan sana-sini. Pakai bilang keterangan dokter soal pasien Covid-19 di RS harus diverifikasi dulu," cuit drh. Nur Purba P. 

Dokter spesialis anestesi, Nirwan Satria ikut menyampaikan kekecewaan. 

Dia berpendapat, dengan melempar tuduhan itu, Moeldoko-Ganjar menebar kebencian dan memprovokasi masyarakat agar membenci rumah sakit, tenaga medis, dan nakes dalam kondisi pandemi ini. 

"Kalau ada agenda, jalankan saja agendanya tanpa mesti provokasi," tegasnya. 

Tak cuma di dunia maya, di dunia nyata, dokter-dokter lain ikut bicara. 

Dokter spesialis paru di RS Persahabatan, Erlina Burhan, salah satu yang membantah tudingan Moeldoko-Ganjar. 

"Dokter tidak akan menulis diagnosis Covid-19 kalau tidak ada bukti, buat apa dokter meng-covid-kan pasien?" tuturnya. 

Selama ini, kata dia, banyak masyarakat tidak memahami, gejala yang ditimbulkan Covid-19 berbeda-beda, sesuai organ tubuh yang diserang. 

Virus yang pertama kali terdeteksi di Wuhan, China ini bisa menyerang organ tubuh selain saluran pernapasan. 

Misalnya, saluran pencernaan, organ jantung, pembuluh darah, pankreas, dan bahkan otak. 

Nah, kurangnya pemahaman masyarakat membuat mereka menuduh para dokter asal diagnosis. 

"Kadang-kadang pasien datang dengan gejala stroke dan positif Covid-19, lalu keluarga marah-marah ke dokter karena merasa yang dialaminya gejala stroke, padahal infeksi Covid-19 juga," jelas Ketua Persatuan Dokter Paru Indonesia Jakarta itu. 

Dia mengimbau masyarakat tidak berburuk sangka kepada para dokter yang memberi diagnosis Covid-19.

Sumber Pikiran Rakyat

1 Komentar untuk "Moeldoko Tuding RS Cari Duit dari Covid-19, Dokter: Pernyataan yang Berbahaya! "

  1. Izin ya admin..:)
    Player vs Player WOW langsung saja kunjungin kami di ARENADOMINO tempat bermain Poker dan kartu yang sangat menyenangkan dan hadiah nyata menanti anda semua.. WA +855 96 4967353

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel