MUI Sumbar Nilai New Normal Tidak Sesuai dengan Ajaran Islam, Ini Alasannya


Ketum MUI Sumbar Buya Gusrizal Gazahar berpendapat, belum saatnya Sumbar khususnya Indonesia pada umumnya memasuki era kenormalan baru alias new normal terkait pandemi virus corona (Covid-19).

MUI Sumatera Barat melihat istilah dan konsep New Normal tidak bersesuaian dengan tinjauan aqidah, fiqh dan akhlaq, karena ujian yang didatangkan oleh Alah swt bukanlah untuk selamanya dan pelaksanaan ibadah seperti memakai masker ketika sholat, menjarakkan shaf dan meminta orang yang mengechek suhu badan tertentu untuk tidak ke masjid adalah hukum-hukum yang diletakkan dalam kondisi dharurat atau tidak normal. 

Di samping itu, sosialisasi new nomal dengan bahasa-bahasa "berdamai", "bersahabat" dan lainnya merupakan penggunaan/kalimat-kalimat yang keluar dari akhlaq Islami.

Buya Gusrizal mengingatkan pemerintah Pemerintah dari pusat sampai ke daerah, bahwa memperlonggar protokoler penanganan Covid-19, di saat penularan masih tergolong tinggi tanpa mempertimbangkan kemampuan penanganannya, bisa mengarah kepada herd immunity yang tidak sesuai dengan ajaran islam. Oleh sebab itu pemerintah harus memperkuat kamampuan penanganan penderita Covid-19 dan penanggulangan dampaknya.

Lebih jauh Buya menjelaskan Dalam Aqidah Islamiyyah, ujian baik dan buruk terjadi karena izin Alah swt namun di antara penyebab datangnya bencana adalah kemaksiatan. Konsep new normal dan menyinggung persoalan ini bahkan cendrung mengabaikan. Karena itu, MUI Sumbar mengingatkan pemerintah dari pusat sampai ke daerah agar menghentikan segala kemaksiatan dalam berbagai bidang kehidupan sebagai buah mengambil iktibar dari wabah yang menimpa.

Sumber minangnews

Belum ada Komentar untuk "MUI Sumbar Nilai New Normal Tidak Sesuai dengan Ajaran Islam, Ini Alasannya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel