Oknum Pemberi ‘Nasi Anjing’ Dapat Dijerat Pasal 156a KUHP - Suara Priangan

Oknum Pemberi ‘Nasi Anjing’ Dapat Dijerat Pasal 156a KUHP



Kasus oknum yang membagikan ‘nasi anjing’ masih menjadi sorotan selain kasus Covid-19 yang terus meningkat. Menurut Sekretaris Jenderal Ikatan Advokat Muslim Indonedia (Ikami), Djudju Purwantoro, kasus tersebut bukanlah kesalahpahaman, atau salah persepsi masyarakat.

“Karena, dari barang bukti pembungkusnya jelas-jelas tertera kalimat ‘nasi anjing, nasi orang kecil.’ Sedangkan jenis lauk dan kehalalannya, menurut kepolisian masih dalam proses pemeriksaan lembaga berwenang,” kata Djudju, Selasa (28/4).

Lebih lanjut, Djudju mengungkapkan, kendati pihak ARK Qahal, memohon maaf melalui media, dan berusaha mengklarifikasi bahwa makanan tersebut halal, perbuatan tersebut tidak serta merta menghapus unsur pidananya. Patut diduga mulai awal proses pembuatan nasi bungkus, pembubuhan logo dan stempel “nasi anjing” tersebut dilakukan secara sadar, juga kemungkinan akibat hukum yang akan ditimbulkan.

“Bagi umat muslim anjing adalah binatang haram dan dilarang untuk dikonsumsi, sehingga mereka pemberi nasi bungkus tersebut patut diduga dan secara sadar dapat melecehkan pemeluk agama Islam yang merupakan mayoritas penerima makanan tersebut. Atas perbuatannya, mereka bisa dikenakan pasal 156a KUHP,” kata dia.

Di mana klausulnya: “dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia”.

Sebagai alternatif pidana, sesuai pasal157 KUHP: “barang siapa menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan tulisan atau lukisan di muka umum, yang isinya mengandung pernyataan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan di antara atau terhadap golongan-golongan rakyat Indonesia, dengan maksud supaya isinya diketahui atau lebih diketahui oleh umum, diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun enam bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.”

“Sesuai asas dolus eventualis, pelaku bisa dipidana, karena suatu keadaan di mana walau sikap batin pelaku tidak menghendaki suatu tujuan untuk mewujudkan suatu tindak pidana, akan tetapi keadaan menyebabkan ia tidak dapat mengelak dari suatu keadaan tertentu,” ujarnya.

Karenanya dia meminta Polisi harus selalu tegas dalam penegakkan hukum kepada semua pihak, dan tidak (conflict interest) condong kepada kepentingan/pihak tertentu. Sehingga tidak mencoreng rasa keadilan masyarakat. (SD)

0 Response to "Oknum Pemberi ‘Nasi Anjing’ Dapat Dijerat Pasal 156a KUHP"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Bawah Artikel